Minggu, 17 Mei 2015

Pengaruh Teknologi

Banyak alat yang diciptakan untuk mempermudah kita justru menjauhkan kita dari keluarga. Benarkah?

Suatu hari, ketika di mal, saya bertemu dengan seorang ibu yang sedang menyusui menghabiskan waktu untuk berbelanja. Menggunakan kereta dorong, dia asyik memilih barang sementara bayinya dibiarkan di dalam kereta dorong tersebut. Mungkin bayi tersebut sudah kelelahan, tetapi yang jelas sang ibu tidak menyadarinya dan terus asyik memilih-milih barang. Selain itu, sang bayi kehilangan sentuhan, perhatian ataupun komunikasi dari sang ibu. Dia dibiarkan begitu saja, walaupun sang ibu masih memegang kereta dorong. Sang bayi kehilangan tatapan mata penuh kasih dari ibu, digantikan dengan melihat barang-barang.

Suatu hari lainnya, saya melihat anak kecil dibawah lima tahun sedang bermain mandi bola di sebuah mal lainnya. Sang ibu membayar untuk 60 menit permainan lalu meninggalkannya. Sepertinya hal ini untuk menyenangkan anak, tetapi anak ditinggalkan di tempat asing. Terkadang anak tersebut mencari wajah yang dia kenal di antara penunggu permainan tersebut. Terkadang dia ingin menunjukkan kehebatannya ketika melakukan sesuatu di tempat bermain tersebut. Permainan tersebut justru memudahkan sang ibu untuk tidak memperhatikan anaknya. Saya merasakan, ketika berbelanja dengan Lian, anak saya, saya harus ekstra hati-hati. Terkadang dia memegang barang pecah belahsehingga harus diawasi, memegang patung pajangan, atau hal-hal lainnya. Tetapi disaat itulah Kesempatan kita untuk mengajar anak kita, mana yang berbahaya, mana yang bagus dan mana yang tidak diperlukan. 

Suatu hari lainnya, saya melihat kedua orang tuanya dengan anaknya mengendarai motor. Selama ini saya berpikir kasihan anaknya karena harus terkena debu, panas dan sering kali hujan. Tapi pandangan saya berubah ketika Lian sering memilih naik motor karena bisa dipeluk oleh istri saya. Ternyata pelukan dari ibu demikian nyaman buat anak mengalahkan panas dan debu yang dirasakannya. Kita punya banyak pilihan supaya anak tidak terkena debu dan panas tetapi pilihan tersebut justru membuat anak kehilangan pelukan ibu.

Suatu hari lainnya, saya mendapati banyaknya peralatan canggih yang membuat kita sebagaimana orang tua kehilangan waktu bermain dengan anak. Baik orang tua maupun anak sibuk dengan tablet atau HP masing-masing. Sebenarnya peralatan tersebut bisa digunakan untuk interaksi, bermain bersama. Beberapa kali anak saya mengajak saya bermain tablet bersama, atau minta dibacakan cerita dari tablet. 

Yang perlu kita sadari, kualitas keluarga menurun ketika kita tidak bijak menggunakan alat yang mempermudah kita. Hubungan anak dan orang tua tidak sedekat dulu, anak tidak merasakan kasih dari orang tuanya. Ketika anak memiliki masalah, mereka tidak mau bertanya atau sekedar berbagi dengan orang tuanya.

Tidak heran jika saya mendapati berita yang mengejutkan tentang remaja sekarang. Seorang mahasiswi meninggal karena pendarahan dalam proses melahirkan di kamarnya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Seorang anak SMU melahirkan di Kebon dan orang tuanya tidak sadar kalau anaknya hamil. Sekelompok remaja merayakan selesainya ujian nasional dengan menyewa kamar dan berhubungan seks dengan pacarnya. Dan sayangnya, orang tua tidak pernah tahu apa yang terjadi pada anak-anak mereka.
Posted on by Libe Suryapusoro | No comments