Selasa, 31 Desember 2019

Catatan Uriel (1) Mencontek

Halo, namaku Uriel. Aku akan menuliskan perjalanan hidupku. Aku hanyalah orang desa yang mencoba memahami kehidupan tentu saja dengan caraku. Aku seorang introvert sehingga caraku lebih ke perenungan untuk menemukan kembali apa yang ada di dalam hidupku.

Aku kembali ke masa-masa sekolah dulu yaitu SMP. Kehidupanku biasa saja, aku bukan orang pintar seperti kebanyakan orang. Aku juga bukan orang yang menonjol bahkan lebih ke pemalu. Aku mencoba menghilang dari sorotan orang-orang. Ketika orang-orang berorasi untuk pemilihan ketua, aku memilih diam. Tapi sering kali aku menjadi kesayangan guruku. Bukan karena aku pintar lebuh karena aku nurut, ngikuti peraturan apapun itu.

Aku tidak pernah terlambat masuk sekolah. Aku selalu mengerjakan PR, membersihkan kelas, sering piket jaga kantin dan aktifitas normal lainnya. Bukan berarti aku selalu menjadi anak baik-baik, beberapa kali aku mencontek bahkan pernah nilai terburuk di kelas.

Saat itu aku mengandalkan kelas lain yang ulangan terlebih dahulu, mendapat contekan dari teman di sana. Biasanya soalnya sama, sehingga aku ngikutin teman. Saat itu aku benar-benar tidak belajar menghadapi ulangan sehingga mengandalkan contekan. Ternyata contekan tersebut salah semua. Nilaiku dibawah 50 dan harus ulangan susulan di ruang guru. Seingatku hanya aku sendiri yang ulangan dan entah kenapa hanya aku yang harus mengulang. Apakah hanya aku yang nilainya kurang dari 50? Aku tidak mengingatnya.

Aku sangat malu karena itu aku siapkan diriku untuk ulangan susulan tersebut. Aku menghafal, menggunakan setiap waktuku untuk belajar. Akhirnya ulangan di ruang guru tiba. Banyak guru yang bertanya kenapa aku ulangan disitu. Malu, tapi apa boleh buat. Aku hanya tersenyum kecut tanpa berani mengungkapkan alasan sesungguhnya. Apakah aku harus mengatakan nilaiku satu-satunya yang buruk? Atau aku harus jujur mengatakan kalau aku mencontek dan contekanku salah semua? Bukankah lebih baik aku tersenyum walaupun sangat malu?

Aku selesaikan semua soal yang ada. Lalu aku kumpulkan ke guru tersebut. Antara lega dan dag dig dug menunggu hasil ulanganku. Beberapa hari kemudian aku dipanggil guru tersebut.

"Riel, ini hasil ulanganmu." Kata bu guru menyerahkan hasil ulanganku. Aku cukup terkejut. Nilainya 100 alias tidak ada yang salah.
"Riel, ibu tahu dulu kamu nyontek dan hasilmu jelek. Saat ini kamu bekerja keras dan hasilnya justru lebih bagus."

Aku hanya diam mendengarkan nasihat bu guru. Betul, dulu aku nyontek dan hasilnya lebih jelek daripada aku belajar benar-benar untuk mempersiapkan ulangan. Tapi malu yang harus aku tanggung ketika banyak guru melihatku... oh... jangan sampai terulang lagi.

Sejak saat itulah aku tidak mau lagi mencontek. Aku kapok. Lebih baik aku berusaha semaksimal mungkin dengan mempersiapkan diri daripada mempersiapkan untuk mencontek.

Komitmen itu aku pegang sampai saat ini. SMU aku hanya sesekali mencontek. Bahkan ketika ulangan aku selalu dijauhi teman-temanku karena aku tidak mau kerja sama. Aku fokus dengan pekerjaanku sendiri. Hasilnya? Lumayan bahkan cukup membanggakan. Karena aku tidak mau mencontek maka aku mempersiapkan diri dengan baik. Aku menghabiskan waktu untuk belajar, belajar dan belajar. Ketika orang-orang menikmati waktu luangnya maka aku mengerjakan soal-soal yang dibelikan ayahku.

Ketika kuliah aku gunakan prinsip yang sama. Tidak mau mencontek. Hasilnya? Lumayan tapi lebih ke menyedihkan. Beberapa mata kuliah harus mengulang. Kebidupan kuliah sangat berbeda. Kalau SMU aku bisa belajar sendiri, mempersiapkan sendiri sedangkan ketika kuliah aku harus bekerja sama. Aku seharusnya belajar bersama dengan teman, diskusi dengan mereka. Tidak bisa dilakukan sendiri. Akhirnya dengan tertatih-tatih aku lulus. Nilainya? Akh... lulus saja sudah bersyukur.

Prinsip lebih baik jujur selalu aku ingat. Apapun hasilnya, selama aku masih jujur aku siap menerimanya. Aku tidak bangga dengan hasil jika aku mencontek. Tapi aku bangga dengan hasil walaupun tidak sebaik temanku asal itu usaha sendiri. Bukankah yang penting ilmunya bukan nilainya? Prinsip seperti ini sudah menjadi barang langka. Apalagi di zaman sekarang yang nilai menjadi segalanya.

Aku bersyukur dengan ibu guru SMPku yang memberikan pelajaran ini. Walaupun masih menjadi misteri kenapa hanya aku yang menjalani ulangan itu. Biarlah.... yang penting itu menjadi prlajaran dalam hidupku. Buktinya aku ingat sampai saat ini.
Posted on by Libe Suryapusoro | No comments