Halo, namaku Uriel. Aku akan menuliskan perjalanan hidupku. Aku hanyalah orang desa yang mencoba memahami kehidupan tentu saja dengan caraku. Aku seorang introvert sehingga caraku lebih ke perenungan untuk menemukan kembali apa yang ada di dalam hidupku.
Aku kembali ke masa-masa sekolah dulu yaitu SMP. Kehidupanku biasa saja, aku bukan orang pintar seperti kebanyakan orang. Aku juga bukan orang yang menonjol bahkan lebih ke pemalu. Aku mencoba menghilang dari sorotan orang-orang. Ketika orang-orang berorasi untuk pemilihan ketua, aku memilih diam. Tapi sering kali aku menjadi kesayangan guruku. Bukan karena aku pintar lebuh karena aku nurut, ngikuti peraturan apapun itu.
Aku tidak pernah terlambat masuk sekolah. Aku selalu mengerjakan PR, membersihkan kelas, sering piket jaga kantin dan aktifitas normal lainnya. Bukan berarti aku selalu menjadi anak baik-baik, beberapa kali aku mencontek bahkan pernah nilai terburuk di kelas.
Saat itu aku mengandalkan kelas lain yang ulangan terlebih dahulu, mendapat contekan dari teman di sana. Biasanya soalnya sama, sehingga aku ngikutin teman. Saat itu aku benar-benar tidak belajar menghadapi ulangan sehingga mengandalkan contekan. Ternyata contekan tersebut salah semua. Nilaiku dibawah 50 dan harus ulangan susulan di ruang guru. Seingatku hanya aku sendiri yang ulangan dan entah kenapa hanya aku yang harus mengulang. Apakah hanya aku yang nilainya kurang dari 50? Aku tidak mengingatnya.
Aku sangat malu karena itu aku siapkan diriku untuk ulangan susulan tersebut. Aku menghafal, menggunakan setiap waktuku untuk belajar. Akhirnya ulangan di ruang guru tiba. Banyak guru yang bertanya kenapa aku ulangan disitu. Malu, tapi apa boleh buat. Aku hanya tersenyum kecut tanpa berani mengungkapkan alasan sesungguhnya. Apakah aku harus mengatakan nilaiku satu-satunya yang buruk? Atau aku harus jujur mengatakan kalau aku mencontek dan contekanku salah semua? Bukankah lebih baik aku tersenyum walaupun sangat malu?
Aku selesaikan semua soal yang ada. Lalu aku kumpulkan ke guru tersebut. Antara lega dan dag dig dug menunggu hasil ulanganku. Beberapa hari kemudian aku dipanggil guru tersebut.
"Riel, ini hasil ulanganmu." Kata bu guru menyerahkan hasil ulanganku. Aku cukup terkejut. Nilainya 100 alias tidak ada yang salah.
"Riel, ibu tahu dulu kamu nyontek dan hasilmu jelek. Saat ini kamu bekerja keras dan hasilnya justru lebih bagus."
Aku hanya diam mendengarkan nasihat bu guru. Betul, dulu aku nyontek dan hasilnya lebih jelek daripada aku belajar benar-benar untuk mempersiapkan ulangan. Tapi malu yang harus aku tanggung ketika banyak guru melihatku... oh... jangan sampai terulang lagi.
Sejak saat itulah aku tidak mau lagi mencontek. Aku kapok. Lebih baik aku berusaha semaksimal mungkin dengan mempersiapkan diri daripada mempersiapkan untuk mencontek.
Komitmen itu aku pegang sampai saat ini. SMU aku hanya sesekali mencontek. Bahkan ketika ulangan aku selalu dijauhi teman-temanku karena aku tidak mau kerja sama. Aku fokus dengan pekerjaanku sendiri. Hasilnya? Lumayan bahkan cukup membanggakan. Karena aku tidak mau mencontek maka aku mempersiapkan diri dengan baik. Aku menghabiskan waktu untuk belajar, belajar dan belajar. Ketika orang-orang menikmati waktu luangnya maka aku mengerjakan soal-soal yang dibelikan ayahku.
Ketika kuliah aku gunakan prinsip yang sama. Tidak mau mencontek. Hasilnya? Lumayan tapi lebih ke menyedihkan. Beberapa mata kuliah harus mengulang. Kebidupan kuliah sangat berbeda. Kalau SMU aku bisa belajar sendiri, mempersiapkan sendiri sedangkan ketika kuliah aku harus bekerja sama. Aku seharusnya belajar bersama dengan teman, diskusi dengan mereka. Tidak bisa dilakukan sendiri. Akhirnya dengan tertatih-tatih aku lulus. Nilainya? Akh... lulus saja sudah bersyukur.
Prinsip lebih baik jujur selalu aku ingat. Apapun hasilnya, selama aku masih jujur aku siap menerimanya. Aku tidak bangga dengan hasil jika aku mencontek. Tapi aku bangga dengan hasil walaupun tidak sebaik temanku asal itu usaha sendiri. Bukankah yang penting ilmunya bukan nilainya? Prinsip seperti ini sudah menjadi barang langka. Apalagi di zaman sekarang yang nilai menjadi segalanya.
Aku bersyukur dengan ibu guru SMPku yang memberikan pelajaran ini. Walaupun masih menjadi misteri kenapa hanya aku yang menjalani ulangan itu. Biarlah.... yang penting itu menjadi prlajaran dalam hidupku. Buktinya aku ingat sampai saat ini.
Selasa, 31 Desember 2019
Minggu, 17 Mei 2015
Pengaruh Teknologi
Banyak alat yang diciptakan untuk mempermudah kita justru menjauhkan kita dari keluarga. Benarkah?
Suatu hari, ketika di mal, saya bertemu dengan seorang ibu yang sedang menyusui menghabiskan waktu untuk berbelanja. Menggunakan kereta dorong, dia asyik memilih barang sementara bayinya dibiarkan di dalam kereta dorong tersebut. Mungkin bayi tersebut sudah kelelahan, tetapi yang jelas sang ibu tidak menyadarinya dan terus asyik memilih-milih barang. Selain itu, sang bayi kehilangan sentuhan, perhatian ataupun komunikasi dari sang ibu. Dia dibiarkan begitu saja, walaupun sang ibu masih memegang kereta dorong. Sang bayi kehilangan tatapan mata penuh kasih dari ibu, digantikan dengan melihat barang-barang.
Suatu hari lainnya, saya melihat anak kecil dibawah lima tahun sedang bermain mandi bola di sebuah mal lainnya. Sang ibu membayar untuk 60 menit permainan lalu meninggalkannya. Sepertinya hal ini untuk menyenangkan anak, tetapi anak ditinggalkan di tempat asing. Terkadang anak tersebut mencari wajah yang dia kenal di antara penunggu permainan tersebut. Terkadang dia ingin menunjukkan kehebatannya ketika melakukan sesuatu di tempat bermain tersebut. Permainan tersebut justru memudahkan sang ibu untuk tidak memperhatikan anaknya. Saya merasakan, ketika berbelanja dengan Lian, anak saya, saya harus ekstra hati-hati. Terkadang dia memegang barang pecah belahsehingga harus diawasi, memegang patung pajangan, atau hal-hal lainnya. Tetapi disaat itulah Kesempatan kita untuk mengajar anak kita, mana yang berbahaya, mana yang bagus dan mana yang tidak diperlukan.
Suatu hari lainnya, saya melihat kedua orang tuanya dengan anaknya mengendarai motor. Selama ini saya berpikir kasihan anaknya karena harus terkena debu, panas dan sering kali hujan. Tapi pandangan saya berubah ketika Lian sering memilih naik motor karena bisa dipeluk oleh istri saya. Ternyata pelukan dari ibu demikian nyaman buat anak mengalahkan panas dan debu yang dirasakannya. Kita punya banyak pilihan supaya anak tidak terkena debu dan panas tetapi pilihan tersebut justru membuat anak kehilangan pelukan ibu.
Suatu hari lainnya, saya mendapati banyaknya peralatan canggih yang membuat kita sebagaimana orang tua kehilangan waktu bermain dengan anak. Baik orang tua maupun anak sibuk dengan tablet atau HP masing-masing. Sebenarnya peralatan tersebut bisa digunakan untuk interaksi, bermain bersama. Beberapa kali anak saya mengajak saya bermain tablet bersama, atau minta dibacakan cerita dari tablet.
Yang perlu kita sadari, kualitas keluarga menurun ketika kita tidak bijak menggunakan alat yang mempermudah kita. Hubungan anak dan orang tua tidak sedekat dulu, anak tidak merasakan kasih dari orang tuanya. Ketika anak memiliki masalah, mereka tidak mau bertanya atau sekedar berbagi dengan orang tuanya.
Tidak heran jika saya mendapati berita yang mengejutkan tentang remaja sekarang. Seorang mahasiswi meninggal karena pendarahan dalam proses melahirkan di kamarnya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Seorang anak SMU melahirkan di Kebon dan orang tuanya tidak sadar kalau anaknya hamil. Sekelompok remaja merayakan selesainya ujian nasional dengan menyewa kamar dan berhubungan seks dengan pacarnya. Dan sayangnya, orang tua tidak pernah tahu apa yang terjadi pada anak-anak mereka.
Selasa, 25 Maret 2014
Kurikulum Wirausaha: Membuat Komunitas usaha
Tujuan:
1. Anak-anak
memiliki komunitas untuk usaha mereka yang akan mendorong satu sama lainnya
2. Anak
memiliki motivasi tinggi untuk memulai usaha mereka
Aktifitas:
Mentor menciptakan lingkungan yang kondusif buat mereka
menjadi pengusaha. Mengingat sedikitnya anak yang tertarik untuk menjadi
pengusaha di masing-masing daerah, maka dilakukan per kelompok supaya bisa belajar
satu sama lainnya.
Yang akan mereka lakukan adalah sharing ide mereka dan
mendiskusikannya. Mereka perlu bertemu dalam kelompok-kelompok secara rutin
supaya semangat mereka terjaga dan mereka memiliki pengalaman dari anak lain.
Tema yang menjadi diskusi mereka adalah hasil pengamatan usaha yang telah
mereka lakukan.Garis Besar Youth Program
Entrepreunership
Berdasarkan evaluasi yang ada masalah terberat program
ini adalah mental anak yang tidak siap menjalankan sebuah usaha. Banyak yang
diawalnya mereka semangat melakukan semua aktifitas tetapi setelah bertemu
dengan permasalahan-permasalahan, banyak diantara mereka mengundurkan diri. Hal
ini disebabkan kita belum mempersiapkan mereka dengan baik sehingga mereka
tidak siap ketika berhadapan dengan keadaan konsumen dan permasalahan yang
timbul.
Youth Program
Keadaan
psikologi remaja
Periode remaja adalah masa transisi dalam periode
anak-anak ke periode dewasa. Periode ini dianggap sebagai asa-masa yang amat
penting dalam kehidupan seseorang khususnya dalam pembentukan kepribadian
individu.
Masa remaja dibagi dua bagian yaitu (1) periode remaja
awal yaitu berkisar antara umur 13-17 tahun, dan (2) periode remaja akhir yaitu
umur 17-18 tahun. Secara umum, periode remaja merupakan klimaks dari
periode-periode perkembangan sebelumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)